Setiap Siswa Adalah Unik

 

Perjalanan Belajar bersama Yusuf Bahtiar

Sebagai seorang pendidik, saya merasa bahwa mendidik adalah tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru. Dimana mendidik tidak hanya menyampaikan ilmu, akan tetapi mendidik maknanya lebih dari itu. Mendidik berkaitan juga dengan perubahan perilaku, menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif agar nantinya menjelma menjadi sebuah karakter positif. Sebagai guru, apalagi guru sekolah dasar (SD). Setiap tahunnya pasti menemukan tantangan tersendiri di dalam kelas. Mulai dari siswa yang pendiam, sulit diatur, sering menangis, senang menyendiri dan banyak juga yang ceria dan mudah berbaur bersama teman-temannya.

Tantangan tahun ini, saya mengajar di kelas satu.  Jumlahnya 25 siswa. Selain saya menghadapi jumlah yang lumayan banyak, saya juga akan menghadapi karakter sejumlah siswa yang ada di dalam kelas. Awal masuk tahun ajaran, saya biasanya mengajak anak-anak berkenalan dengan bertepuk tangan atau mengenalkan anak-anak dengan permainan kecil dan seru. Yang terpenting anak senang dan nyaman berada di lingkungan sekolah.

Sepuluh menit pembelajaran telah berlalu, ada beberapa siswa di dalam kelas yang sangat sulit saya kendalikan. Salah satunya siswa yang bernama Yusuf Bahtiar. Anak ini setiap kali saya masuk kelas, selalu menjerit-jerit suaranya memekik telinga. Tidak mau diam, terkadang keluyuran ke luar kelas tidak jelas tujuannya. Melihat tingkah laku Yusuf yang terlihat beda dengan teman-temannya, saya merasa jengkel, kesal,juga merasa bahwa perilaku Yusup sangat mengganggu suasana belajar di dalam kelas. Namun, saya berusaha mengendalikan diri dengan lebih sabar dan menahan emosi. Saya juga sempat berfikir, apakah saya mampu merubah kebiasaannya yang selalu berteriak dan jalan keluyuran tak jelas itu? Saya mencoba untuk bersikap tenang dan sedkit-sedikit mencari penyebab dan jalan keluar dari masalah ini.

Setelah saya telusuri, ternyata anak ini hanya tinggal bersama kakak dan ibunya. Ia sudah ditinggal ayahnya semenjak masih kecil. Di dalam rumah, setiap harinya hanya berteman dengan handpone. Karena ia ditinggal oleh ibunya berdagang untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Saya terus berusaha mendalami karakter Yusuf. Ketika belajar, terkadang saya merasa kebingungan karena Yusuf tidak pernah mau menulis. Pada suatu hari, saya mencoba mengajaknya melihat-lihat gambar yang ada di buku. Ternyata respon yang ia tunjukan sangat positif. Lalu saya mencoba mendekatinya dan menyuruhnya untuk membuat gambar.

Sungguh menakjubkan, apa yang saya lihat dari gambar yang ia buat. Dia membuat gambar meteor jatuh dari langit, ada raksasa dan gambar seorang penjual jajanan di depan warung. Ketika saya bertanya tentang gambar yang ia buat, dia menceritakan gambar tersebut dengan lancar. “ ini adalah meteor. Meteor ini salah satu benda langit yang jatuh ke bumi” ungkap Yusuf dengan lancar. “ Meteor ini juga menabrak raksasa karena raksasa tersebut telah menghancurkan warung milik seorang pedagang” ungkap Yusuf selanjutnya. Aku merasa tercengang. Ternyata anak ini memiliki potensi yang perlu terus digali. Menrut Ki Hajar Dewantara, bahwa guru di ibaratkan petani dan siswa sebagai benih padi atau jagung. Tugas petani hanya merawat tanaman agar dapat tumbuh dengan subur. Jika tanaman itu dirawat, maka padi atau benih jagung akan tumbuh subur meskipun ditanam di lahan yang gersang.

Agar Yusuf dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya, akhirnya setiap hari saya berusaha mencari ide berupa gambar-gambar dari google. Meskipun harus belajar terpisah dari teman-temannya. Bagi saya yang paling penting Yusuf mau belajar. Selain menggunakan gambar dalam pembelajarannya, saya juga selalu memberi penguatan positif baik dengan perbal maupun dengan non verbal. Ketika menunjukan perubahan sekecil apapun itu, saya selalu mengangkat jempol dan mengatakan bahwa dia anak yang pintar dan hebat. Dia selalu menunjukan senyumnya yang tulus tanda bahagia.

Enam bulan berlalu. Usaha yang saya lakukan semakin menunjukan banyak perubahan. Kini, saya bersama Yusuf dan anak-anak hebat lainnya berada di pembelajaran semester 2. Banyak perubahan yang tampak dalam diri Yusuf Bahtiar. Mulai dari ikut bermain dengan teman-temannya, mau menulis, bahkan sudah menunjukan lancar membaca. Ketika saya menulis bacaan di papan tulis, Yusuf segera membacanya dengan lancar dan menulisnya di buku tulis tanpa menunggu komando. Terkadang ia meminta materi yang lebih sulit karena ia merasa yang sedang dia pelajari materi yang terlalu mudah dan gampang. Akhirnya sebagai bentuk pengayaan, saya selalu membuat soal-soal yang levelnya lebih tinggi dan ternyata Yusuf senang mengerjakannya. Saya  tersenyum bahagia melihat banyak perubahan yang terjadi secara ajaib pada diri Yusuf. Kisah Yusuf tidak hanya jadi ingatan panjang tetapi saya abadikan dalam sebuah cerita.         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mempermudah Penuis Bersama Penerbit Mayor